Mikrajudin Abdullah on “Tantangan bagi Dosen dan Universitas Dalam Negeri”

Tulisan ini diambil dari laman facebook Dr. Mikrajuddin Abdullah, guru besar ilmu fisika di Institut Teknologi Bandung, Indonesia.

==========================================================================

Tantangan bagi Dosen dan Universitas Dalam Negeri

Negara ini sudah 71 tahun merdeka. Jumlah PT yang dimiliki lebih dari 3.000. Dari jumlah itu ada beberapa PT yang dianggap top karena usia yang sudah lama dan memiliki sumber daya yang jauh lebih baik. Dari jumlah itu pula ada 11 yang berstatus PTN bh (PTN berbadan hukum), yaitu: ITB, UI, IPB, USU, Unpad, UGM, Undip, ITS, Unhas, UPI, dan Unair. PTN bh ini dianggap sebagai PT terdepan sehingga mendapat perlakuan khusus. Dengan asumsi tersebut maka PTN bh tersebut harus bisa menyelenggarakan pendidikan setara dengan yang di luar negeri. Dan memang beberapa PTN bh masuk dalam top universitas di Asia, terlepas dari sejumlah perdebatan tentang perangkingan tersebut.

Tetapi yang menjadi problem hingga saat ini adalah PT di tanah air masih belum mendapat kepercayaan penuh dari mahasiswa, dosen, dan pemerintah sebagai tempat menempuh studi lanjut (pascasarjana). Mahasiswa lebih memilih studi lanjut di luar negeri, pemerintah lebih senang membiayai mahasiswa mengambil pendidikan di luar negeri dengan biaya sangat besar (pada saat bersamaan hanya memberikan biaya yang kecil bagi mahasiswa yang menempuh pascasarjana dalam negeri), para dosen (termasuk dosen di PTN bh sendiri) merasa sangat bangga jika berhasil mengirim mahasiswa ke luar negeri. Kalaupun mahasiswa mengambil pascasarjana di dalam negeri maka program “sandwitch”, “double degree”, atau pembimbingan bersama dianggap sangat prestisius. Apakah ini tidak bermakna kita belum mengakui kemampuan yang kita miliki atau kita melecehkan kemampuan dosen yang ada di dalam negeri? Sehingga harus sandwitch atau double degree atau bimbing bersama baru hebat. Apakah ini tidak termasuk sifat inferior dan baru merasa hebat kalau bersama dengan orang luar negeri? Selama kita masih bergantung pada orang lain maka kita belum benar-benar terhormat.

Kita sudah 71 tahun merdeka, dan sudah saatnya (sebenarnya sudah terlambat) untuk percaya diri dan mengakui kemampuan yang kita miliki. Daripada harus selalu bergantung ke luar negeri, akan lebih terhormat kita tunjukkan bahwa kita bisa seperti mereka. Harus ada orang yang memulai agar “generasi dengan sifat bergantung tersebut” putus dan tergantikan oleh generasi unggul yang sangat percaya pada kemampuan sendiri. Ini adalah pekerjaan yang sangat sulit. Karena harus berkompetisi dalam kondisi yang cukup terbatas.

Apakah kerja sama dengan luar negeri tidak boleh? Sangat boleh tetapi dalam posisi yang sejajar. Dan lebih terhormat lagi kalau kita dalam posisi di atas.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s