Hakiki comments on “Tantangan bagi Dosen dan Universitas Dalam Negeri” by Mikrajuddin Abdullah

Ini adalah komentar saya terkait tulisan beliau yang diposting di halaman facebook dan saya copy di postingan blog saya: Baca LINK.

Sepaham saya atas tulisan beliau, ada beberapa poin yang diajukan oleh Pak Mikra, yaitu:

  1. Pemerintah menggelontorkan biaya yang sangat besar untuk memberikan beasiswa kepada WNI yang sekolah paskasarjana ke luar negeri padahal biaya yang sangat kecil digelontorkan untuk WNI yang bersekolah di dalam negeri dalam jenjang pendidikan yang sama (S2/S3).
  2. Rasa inferior dari mahasiswa ketika bersekolah di dalam negeri. Rasa inferior ini muncul jika dibandingkan dengan mahasiswa yang mengikuti program sandwich atau terlebih lagi dengan mahasiswa yang sepenuhnya kuliah di luar negeri.
  3. Rasa ketidakpercayaan atas kualitas pendidikan paskasarjana (Graduate Study) di dalam negeri.
  4. Keinginan mengubah kondisi pendidikan Indonesia menjadi lebih baik padahal kondisi kita terbatas.
  5. Keinginan bekerjasama dengan universitas di luar negeri tetapi universitas dalam negeri sebagai pemimpin atau minimal setara.

Berikut tanggapan saya mengenai pendidikan di Indonesia khususnya paskasarjana karena di tingkat inilah mahasiswa dituntut untuk menghasilkan produk riset.

  1. Tanggapan poin (1): Ini memang menyedihkan. Departemen Keungan menggelontorkan milliaran dollar untuk WNI yang sekolah melalui beasiswa LPDP. Then, kurangnya apa? Memang, LPDP bukanlah afiliasi pendidikan atau riset jadi “mungkin” wajar kalau tidak ada yang menuliskan LPDP sebagai afiliasi dalam paper atau presentasi paper mahasiswa paskasarjana ini. Imbasnya, nama Indonesia tidak tampak sama sekali. Misalkan saja, setiap mahasiswa penerima beasiswa LPDP ini menulis paper dengan 2nd affiliation yaitu LPDP atau Indonesia Endowment Fund for Education, Ministry of Finance pasti nama Indonesia akan sangat terangkat di ajang scopus atau Thomson Reuters. Ya… lagi-lagi LPDP bukanlah afiliasi riset atau universitas, hanyalah pemberi beasiswa, buat apa mencatumkannya. At least, that is the minimum contribution that they (should) can do for Indonesia. Pikir saya, lebih baik beasiswa LPDP di “attach” ke setiap kepala group riset atau dosen pembimbing dengan skema research grant atau beasiswa dari dosen. Jelasnya begini, sekalipun mahasiswa tersebut kuliah di dalam negeri, tetapi ybs tetap dapat stipend yang setara dengan di luar negeri, artinya tetap di angka belasan atau 20-an juta per bulan. Hal ini agar memberikan semangat ke ybs untuk berkarya dan melakukan riset. Nah, untuk tuition fee yang dibayarkan ke kampus dalam negeri tetaplah setara tution fee luar negeri tetapi selisih kelebihan ini dibuat sebagai uang “research grant” dan gaji tambahan dosen yang diberikan kepada dosen pembimbing. Sehingga, dosen pembimbing tetap bisa “menekan” mahasiswa agar berkarya, kalau tidak beasiswa diputus. Dengan logika awam saya ini, saya ingin memperlakukan kampus dalam negeri sebagai kampus luar negeri. Tidak hanya dosen saja yang berkompetisi mencari mahasiswa untuk memberikan beasiswa LPDP tetapi si dosen juga harus ditekan, kalau sudah dapat dana hibah beasiswa LPDP untuk mahasiswanya namun tidak bisa mengeluarkan output riset di jurnal kelas internasional dengan impact factor sekian, akan “ditendang”.  Ini yang saya pelajari dari kampus saya KAUST. Setiap dosen adalah Principle Investigator mereka punya tim terdiri dari Research Scientist, Postdoc serta mahasiswa S2 dan S3 bahkan jumlah S3 jauh mengungguli jumlah S2 sampai  5-10 kalinya. Setiap dosen mendapatkan dana yang sangat besar dan ditekan untuk berkarya. Oleh karenanya, dosen pun berusaha untuk merekrut mahasiswa S2/S3 sebanyak mungkin dan berkarya sebanyak dan sebaik mungkin di jurnal yang bagus dan kualitas riset yang nomor SATU (alias menjadi panutan dan pertama di dunia). Bahkan di KAUST, dosen yang tidak produktif akan dipecat. Saya sudah ketemu beberapa mahasiswa yang dikeluarkan dari riset groupnya, karena dosen pembimbingnya menganggap ybs tidak melakukan performa riset yang baik. KAUST ini cukup keras dan sangat baik dalam membina etos kerja dan kreativitas. Wajar, kita dibayar dengan stipend yang paling besar di dunia dengan fasilitas yang hampir semua gratis. Andaikan LPDP digelontorkan ke universitas dalam negeri dengan high stipend dan high “pressure”  saya yakin mahasiswa kita akan “terpaksa” berkarya. Alhasil, nama Indonesa terangkat di dunia pendidikan dan riset.
  2. Tanggapan poin (2): Rasa inferior ini cukup pribadi. Rumput tetangga akan selalu tampak hijau. Saya tidak bisa berkomentar jauh.
  3. Tanggapan poin (3): Kualitas pendidikan Indonesia memang rendah. Saya menilainya dari laporan summer intern atau research project antara sampel beberapa mahasiswa di US (MIT, Stanford, Georgia Tech), Colombia, German dibanding dengan mahasiswa Indonesia di jurusan saya Teknik Perminyakan ITB. Di jurusan saya, plagiarisme sangat mudah ditemui tanpa harus susah payah menggunakan software pendeteksi plagiarisme seperti turnitin. Plagiarisme mulai dari laporan magang/Kerja Praktik (KP) sampai Tugas Akhir (TA) sudah saya temukan sampelnya. Di luar negeri sini baik KAUST atau luar, setiap kuliah hampir menuntut kita untuk menulis essay sebagai bagian proyek akhir. Tulisan ini akan diperiksa kebenarannya melalui turnitin. Kalau di KAUST, tulisan yang dinilai hanyalah sebatas thesis. Saya ketahui di Curtin University, beberapa essay mata kuliah akan diperiksa oleh software pendeteksi plagiarisme. Bahkan, di jurusan Y kampus Z, ada oknum dosen yang “khilaf untuk mengajarkan” sitasi paper yang tidak benar dan menjurus ke plagiarisme. Saya mendengar sendiri dari ex-mahasiswa bimbingannya.
  4. Di poin (3) terbatas pada aspek integritas, bagaimana dengan aspek riset? Ini juga menanggapi poin (4) dari Pak Mikra. Ini bukan masalah biaya terbatas atau peralatan terbatas. Tapi mentalitas dan daya juang yang lemah. Ya… mungkin produktivitas dosen dalam menulis karya ilmiah memang tergantung proyek riset (DUIT) yang dimenangkan. Tapi, ada kok beberapa dosen yang tetap getol dalam menulis karya ilmiah dan mempunyai high citation dengan dana terbatas. Ini semua mental. Ada juga beberapa sampel mahasiwa adik kelas saya, yang sudah berlatih menyajikan pemikiran secara ilmiah dengan indah dan rapih melalui conference atau journal. Masih S1 saja sudah punya publikasi di kelas International Conference atau International Journal.  Adalah beberapa adik kelas saya, yang cukup saya bimbing untuk membaca beberapa paper, lantas dia tahu apa kelemahan dari paper-paper tersebut. Ini simple, dengan mengetahui kelemahan atau keterbatasan, kita bisa berkarya dengan paper yang lebih baik dan sempurna. Memang masih sekedar paper biasa bukan yang fundamental, tetapi setidaknya mereka belajar bagaimana menulis “Introduction, Methods, Results & Discussion, Conclusions”. Saya mengamati, dosen-dosen kita punya ide cemerlang cuman tidak tahu dan tidak terbiasa bagaimana menjual dan mendokumentasikan hasil idenya itu. Banyak yang berfikir kalau menulis di jurnal internasional haruslah kompleks. Padahal yang penting data yang kita sajikan indah dan dengan penjelasan teori yang sederhana dan mendasar. Justru, saya juga belajar banyak dari reviewer  paper yang mengkritisi isi paper saya; selain dari pembimbing saya sendiri. Reviewer begitu tajam meminta data ini itu dan menguji kevalidan data saya. Akhirnya, saya pun memutar otak agar bisa menjawab sanggahan dan komentarnya. Kita, Indonesia bisa kok! Contoh salah dua alumni Teknik Perminyakan ITB yang saya kagumi atas produktivitas papernya: Dr. Sonny Irawan, Associate Professor at Petroleum Engineering Department, Universiti Teknologi Petronas (UTP), Malaysia. Link to his Google Scholar. Satu lagi, muda dan berbakat: Dr. Luky Hendraningrat, Sr. Reservoir Engineer Link to his Google Scholar. Ya, ini semua tentang budaya. Saya cukup senang dengan melihat adik-adik kelas saya TM2011, 2012 dan 2013 sudah berani dan banyak yang bisa membuat tulisan sederhana dan masuk SPE Conference. Setidaknya SPE Conference ini terindeks scopus. Ya… lagi-lagi meningkatkan derajat dan visibility Indonesia. Memang butuh waktu untuk sampai menulis jurnal dan mempunyai research impact yang signifikan.
  5. Menanggapi poin (5) dari Pak Mikra: Kerja sama di level bawah sudah bisa dijalankan sebenarnya, toh banyak dosen ITB yang lulusan luar negeri. Ya, walaupun tidak semudah itu prosesnya dalam menjalin kerjasama. Tetapi untuk menjalin kerja sama dengan kita di level “tinggi” setidaknya kita bisa menggandeng kampus-kampus di kawasan ASEAN kecuali Singapore dan beberapa kampus Malaysia dan Thailand yang memang jauh di atas ITB.

 

Kesimpulan: Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Kesalahan hanya milik Bunda Dorce #eh #janganserius. Semua bergantung pola pikir kita, menulis itu mudah atau susah. Tidak ada seorang penulis novel yang tidak pernah baca novel sebelumnya. Tidak ada pula peneliti yang tidak melakukan literature review  terlebih dahulu atau setidaknya memahami gap riset yang ditangkap dari membaca paper orang lain, sehingga gap tersebut dia isi sebagai hasil penelitiannya. Tahukah bagaimana ada ide membuat handphone, internet dsb???

Ide muncul dari adanya kebutuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s