Mahasiswa, Guru Les, Barista dan Bartender

Sejak gw jadi mahasiswa ITB, gw sudah seutuhnya merdeka dari orang tua. Merdeka bukan dari bentuk pengawasan tapi juga finansial. Analoginya, selama negara ini masih punya hutang ke IMF atau masih “ngemis” uang ke negara lain, ini bukanlah negara merdeka. #melekpolitik

Anyway, kasih orang tua memang sepanjang masa, oleh karenanya, janganlah membebani orang tua terus-menerus dengan bermanja-manja untuk mendapatkan curahan kasih dan sayuang-nya (read: sayang uang).

Sejak masuk ITB, gw kerja sebagai guru les di suatu bimbel dan juga mandiri. Lumayan, sebulan bisa dapat sampai 3 juta. Apalagi kalau jadi pengajar olimpiade, beuh 500K IDR per day (4 hours) dengan fasilitas transport dan tempat tinggal yang sudah tercover.

Untuk masalah tuition fee, gw udah dijamin oleh ITB melalui beasiswa BIUS. Nah, untuk biaya hidup dan operasional bulanan lah gw masih sangat kurang. Menjadi guru les menjadi pilihan saya waktu itu.

Tapi, waktu demi waktu, menjadi guru les itu membosankan, karena mengajarkan materi yang sama itu itu saja. Yang bikin tidak bosan adalah peserta kelasnya. Duh, bocah SMA dan TPB yang cantik cukup menjadi oase kebosanan saya. Walau, kadang dag dig dug juga. Eits, ada beberapa juga murid yang “begitu”, they demands more. Ah, ini sudah belok dari kaidah umum. Cukup, cukup sampai di sini ceritanya.

Intinya, dengan gaji yang “biasa” dan jam kerja yang padet sampai-sampai gw melupakan apa itu kuliah, gw berencana jadi Barista di cafe kopi gitu deh. Mmmh, kalau gw jadi barista, kerjanya di mall, jam 11-sore atau sore-malam. Artinya, tetap bersinggungan dengan jam kuliah.

Alhasil, rencana menjadi bartender pun terpikir. Why? Jelas bartender kerja di kafe, pub, club atau bar hotel yang beroperasi di malam hari (>21.00 WIB). Selepas jam kuliah inilah menjadi rencana pilihan saya. Bartender (disebut juga sebagai barkeeper, barkeep, barman, barmaid, atau tapster dan masih banyak lainnya) memang kadang dapat pandangan negatif dari society karena memang menyajikan berbagai minuman terutama didominasi minuman beralkohol. #yaudahlah

Ternyata, untuk bisa jadi bartender itu tidak lah mudah. Harus punya modal untuk les dan memasarkan diri. Kita harus les yang bersertifikasi lantas dari tempat kita les akan dipasarkan di beberapa kafe, pub, club atau bar hotel. Well, ini cukup memberatkan, dihitung-hitung bisa sampai 5-10 jutaan sebagai modal.

Ya sudah, akhirnya barista dan bartender hanya jadi kenangan belaka. Setidaknya sekarang di KAUST, gw bisa berekspresi di dapur yang kece ini. Gw kira hobi riset dan culinary art ini tidak jauh berbeda. Bagaimana membuat suatu racikan minuman atau makanan yang bisa membuat orang bahagia, thats the key.

Anyway, kegiatan di laboratorium jauh lebih penting daripada di dapur. Urusan menjaga “bawah perut” juga lebih penting daripada urusan perut.

#Randomness at Saudi National Day

22 Sept 2016

Offide desk, station#3216-04

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s