Puasa di Indonesia: Minoritas dalam Mayoritas

Puasa di tahun 2016 udah berlalu. Gw dulu mau bahas ginian:

 

Eh udah keduluan sama Teh Sacha. Isi dari video Teh Sacha adalah Indonesia ini mayoritas penganut Islam (alias di KTP dan Kartu Keluarga ditulis Islam) tapi kenyataannya yang puasa sangatlah sedikit sekaliiiiii. Quotes dari video itu:

Isi celana dalamku, bukan urusan kamu

Yeah banyak yang beralesan “Saya sedang Menstruasi padahal MALES.”

Gak usah jauh-jauh, di kampung gw, bocah-bocahnya yang baligh (dewasa menurut Islam) aja banyak yang gak puasa. Bahkan mereka gak malu tuh nyetop tukang Bakso di pinggir jalan dan makan. Eh ada tukang bakso atau cilok, ya mereka nyaman-nyaman aja tuh makan TANPA RASA MALU. Ya, wajar. Orang tua mereka tidak mendidik mereka. Jangankan mendidik, orang tuanya pun kagak ikut puasa. Capek deh!

Heran, mereka gembira sekali merayakan lebaran. Menang dari apa coba mereka???

Ini masih di kampung. Coba tengok kalau ke pasar. Woaaaah, di pasar jelas mayoritas orang muslim tapi mana ada (mana ada yang banyak) yang puasa.

Hello, kecamatan gw kecamatan santri, banyak pondok pesantren bertebaran. Tetap aja, it does not give any effects to society behavior.

Sebenarnya, gak masalah sih mereka gak puasa, itu hak dan kewajiban mereka. Cuman yang jadi masalah adalah, mereka itu ikut bangunin orang sahur (tidak pada jamnya, jam 1 malam sahur???) tapi mereka dengan santai dan TANPA ADA URAT MALU untuk makan dipinggir jalan pas siang hari.

Mbok ya, kalau makan sembunyi-sembunyi di rumah saja. Gw menyadari akar masalah adalah bukan pada agama saja tapi lebih ke budi pekerti dan etika.

Gw tinggal di ITB dengan orang-orang yang well-behaved dan ada dari mereka yang NON-MUSLIMKenyataannya mereka makan sembunyi-sembunyi dan menghargai kita yang muslim dan berpuasa.

Tetangga persis gw udah Katholik dan Cina lagi, dia lebih tahu bagaimana menghargai dan menghormati orang muslim yang berpuasa. Saudara-saudara gw yang Katholik dan Cina lagi, mereka tahu betul apa makna silaturahim ke keluarga yang lebih tua dan muslim ketika lebaran tiba.

Nah… jadi inget ini:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka

LOL, jadi siapa yang patut dicontoh? Orang barat dan berpendidikan serta non muslim (yang saya temui dominan di KAUST) lebih mengamalkan Al Quran tanpa tahu apa itu Al Quran. Untuk sampel orang Asia ada tetangga persis dan saudara yang gw sebut di atas😦

Gw miris dengan sifat “sak enak udel” dari orang-orang yang tidak berpendidikan ini. Gw selalu berharap semoga Indonesia bisa lebih baik dan banyak kalangan terpelajar yang hidup di Indonesia.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s