Cerita tentang Nenek: Adab Bermasyarakat dan Bertetangga

Ibu saya sering sekali bercerita tentang ibunya (alm) atau ibu angkatnya (alm). Keduanya mempunya sifat yang kurang lebih sama. Nenek saya tidak akan pernah membiarkan orang-orang jualan keliling seperti sol sepatu, tukang patri (benerin panci bolong), tukang payung, jualan ember dll yang sering berkeliling kampung di terik panas hari begitu saja.

Coba baca artikel ini: BACA-1.

Nenek saya pasti memanggil tukang-tukang atau pedagang tersebut ke rumah untuk membelinya walau tidak butuh karena nantinya akan diberikan/disedekahkan ke orang lain atau kalau memang tidak punya uang untuk membeli ya sekedar memberikan minum dan makan. Adanya pecel ya pecel, adanya soto ya soto. Catatan: soto termasuk masakan mewah di kampung di tahun 70-80an.

Itulah yang selalu diajarkan oleh ibu saya agar selalu jangan membiarkan orang yang kamu lihat tampak kelaparan dan kehausan. Kita tidak pernah tahu doa-doa baik yang terucap dari mereka bisa sangat mustajab. Kita tidak tahu seberapa jauh berjalan yang telah ditempuh oleh penjual-penjual tadi. Demi menjual barangnya dari satu kampung ke kampung lain. JANGAN pernah bersyukur seperti ini, “Ya Tuhan, untung orang tua saya gak kerja seperti mereka. Untung saya tidak terlahir di keluarga seperti mereka.” Ini sangat menyakitkan!!! Bersyukurlah dengan cara mendoakan, “Ya Tuhan semoga hari ini beliau-beliau diberikan rezeki yang melimpah, halal dan berkah. Semoga anak-anaknya bisa sukses, membahagiakan mereka dan mengangkat derajatnya secara sosial dan finansial.”

Sekedar saran, kalau mau berniat sedekah sekalipun coba tetap melakukan penawaran agar tetap tidak ada perasaan begini “Lah, ini orang saya jual 10 ribu, langsung ambil saja. Tahu gitu saya jual 12 ribu tadi”. Tetaplah menawar, sekedar untuk formalitas, biar si penjual merasakan kebahagiaan walau kembaliannya atau pembeli membeli dengan harga melebihi kesepakatan.

Mengenai kehidupan bermasyarakat, saya jadi inget adab bertetangga yaitu “Jangan pula membiarkan tetanggamu kesusahan”.

“Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga (yang di sebelah)nya kelaparan”. [HR al-Bukhoriy di dalam al-Adab al-Mufrad: 112, al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu, dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا آمَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانٌ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang padahal tetangganya yang di sampingnya dalam keadaan lapar sedangkan ia mengetahuinya. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Baca adab bertetangga: BACA-2.

Jangan sungkan menawarkan apa yang wajar dari yang kamu punya sedang kamu mempunyainya lebih dari cukup. Dalam hal bertetangga, hal wajar ini adalah makanan atau misal obat sedang apotek sudah tutup. Banyak sekali kejadian dalam hidup saya yang saya alami sendiri. Si A sangat tidak suka dengan Si B padahal mereka bertetangga. Si B suka difitnah atau didoakan jelek oleh Si A. Namun Si B tetap membalasnya dengan kebaikan dan doa agar suatu saat Tuhan menyadarkannya. Bukan cerita dongeng, karena suatu hal, Si B tetap konsisten membantu tetangganya termasuk Si A. Alhasil, sikap Si A kini sangat berubah drastis dan sangat hormat ke Si B. Tidak satu dua tiga saya melihat kasus ini dari tetangga-tetangga saya.

Tidak perlu menonton sinetron dengan segala dramanya, semua hal yang “ajaib” telah saya lihat dan alami sendiri dari tetanga-tetangga saya. Sehingga saya belajar banyak dari salah satunya Si B. Dengan segala hujatan dan hinaan dari Si A, C, D… Si B datang menjenguk dan mengobati mereka Si A, C, D kalau sakit dan bahkan diobati secara gratis dan tanpa panggilan Si B dengan ikhlasnya mampir kerumahnya.

Akan ada orang-orang yang akan teringat dalam pikiran kita:

  1. Orang yang membantu keluar dari kesulitan
  2. Orang yang membuat kita dalam kesulitan

Semoga kita diikhlaskan untuk memaafkan orang tipe 2. Semoga kembali ke jalan yang benar. Jangan lupa untuk selalu mendoakan orang tipe 1 agar diberikan kehidupan yang lebih baik di dunia maupun akhirat. Berterima kasih tidak harus langsung ke orang tipe 1 itu, tapi juga bisa ke generasi selanjutnya.

Jika kalian selalu berada dalam kondisi nyaman, cobalah untuk sekali-kali travelling ke negeri entah berantah dengan membawa modal sedikit [Contoh ekstrim]. Di sana lah, you would feel nothing, ciuuuuut banget. There would be no one can help but Him. You would be thankful to anyone whom assist you. Rasakan ketika kalian ditolong oleh orang yang totally stranger. Ya… hal itulah yang sama ketika si penjual atau tukang-tukang diatas ditolong oleh kalian. Ya, jalan-jalan ke luar negeri memang menyenangkan. Tapi ingat, semua rezeki itu dari Nya yang tidak begitu saja datang tapi ada cerita di balik itu. Ingatlah setiap individu yang membuat cerita itu mungkin.

Ada beberapa tipe terima kasih kepada Tuhan:

  1. Berterima kasih karena rezeki dari Nya.
  2. Berterima kasih karena masih bisa mengucap syukur.
  3. Berterima kasih karena masih diberikan kesadaran bahwa: “Berterima kasih karena masih bisa mengucap syukur” itu penting.
  4. Berterima kasih karena masih sadar bahwa: “Berterima kasih karena masih diberikan kesadaran bahwa: “Berterima kasih karena masih bisa mengucap syukur” itu penting” itu sangatlah perlu.
  5. Berterima kasih karena masih ingat bahwa: … (looping without end).

 

26 Juni 2016 M – 21 Ramadhan 1437 H

KAUST

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s