Pengalaman = Publikasi?

Persaingan beasiswa paskasarjana terutama doktoral sangatlah kompetitif. Banyak hal yang dipertimbangkan bagi komite beasiswa atau profesor dalam memberikan beasiswa dan/atau memilih graduate student terutama PhD Student, antara lain:

  1. Hirarki akademis. Misal kita akan mendaftar ke universitas X, sebaiknya kita meminta rekomendasi dari dosen yang lulusan X juga. Lebih baik lagi kalau dosen kita di ITB dulu murid PhD dari Prof. Y di kampus X dan kita pun sedang mendaftar Prof. Y itu. Udah alamat, bisa lah.
  2. Universitas asal. Hal ini berkaitan dengan mutu riset universitas asal dan kualitasnya.
  3. Pengalaman dan Publikasi. Saya tulis bersamaan dengan kata penghubung “dan” karena memang seharusnya tidak terpisakan. Tapi… Yuk kita bahas lebih lanjut

Cekidot!!!

Banyak mahasiswa post-bachelor atau post-master di ITB yang masih “nongkrong” di ITB mengerjakan proyek-proyek dosen ITB. Mereka benar-benar belajar banyak selayaknya di industri mengerjakan pekerjaan industri alih-alih menunggu waktu dan kesempatan yang tepat untuk melangkah lebih jauh lagi entah ke industri atau dunia akademik. Saya sendiri merasakan hal sama. Sayang, namun sayang… Pekerjaan-pekerjaan proyek tersebut tidaklah dilanjutkan ke bentuk tulisan yang sangat rapih dan diperiksa oleh sejawat yang ahli (peer reviewed) melalui jurnal tentunya. Tulisan-tulisan tersebut hanyalah berhenti di laporan dosen ybs atas nama LAPI ITB atau lembaga afiliasi industri ITB yang lain kepada perusahaan yang bekerjasama melalui perjanjian proyek/konsultasi tersebut.

Kalaupun dipublikasikan, saya lihat terutama di jurusan-jurusan teknik, tulisan tersebut hanya disajikan melalui konferensi-konferensi lokal yang ecek-ecek yang bahkan oleh google scholar pun tidak terindeks. Berbahasa Indonesia lagi. Sayang!!! Saya tahu ada manfaatnya juga kok konferensi kecil tersebut yang lokal dan berbahasa Indonesia papernya. Kalau di bidang saya, Petroleum Eng./Geoscience/Geophysics/Petrophysics masih mending ada SPE Conference yang prosidingnya sudah terindeks oleh Scopus. SPE bahkan memberikan penawaran dan fasilitas untuk ditindaklanjuti sebagai tulisan terperiksa (peer reviewed) sehingga bisa masuk SPE Journal (SPE punya beberapa seri jurnal).

Tapi, lagi-lagi, ambisi para dosen-dosen atau asisten peneliti (post-BSc, post-MSc) tidaklah membara seperti dosen-dosen FMIPA ITB. Dosen-dosen FMIPA dengan nilai $$$ proyek yang kalah jauh dengan dosen-dosen teknik saja, bisa menghasilkan karya di jurnal-jurnal terindeks.

Saya heran, banyak dosen pintar tapi “mandul” di ITB. Menghasilkan karya yang Highly Cited saja tidak cakap. Maaf, bukan menghina atau apa tapi kemandulan itu sudah (mungkin) terbutakan oleh nominal uang yang mengalir dari setiap proyek. Di sisi lain, dosen FMIPA justru gencar menulis karena (mungkin) juga ingin mendapatkan insentif publikasi ilmiah ITB dari setiap paper yang terbit.

Oke deh, gapapa, saya tetap sangat salut dengan dosen-dosen FMIPA ITB yang dengan kesederhanaannya, bisa mempunyai karya-karya di Physical Review, Nature, jurnal-jurnal terbitan Elsevier dll. Mereka tahu, bahwa kualitas universitas di mata dunia (dan menurut kacamata universitas lain) adalah OUTPUT RISET. Saya juga sadar, dengan gaji alakadarnya itu, wajar kalau dosen-dosen teknik fokus proyekan daripada menulis karya ilmiah. Tapi kan proyek-proyek itu bisa dilanjutkan ke bentuk tulisan??? #tetepngeyel

Kemalasan ini akhirnya menular dari “guru” ke “murid”nya. Sayang, akhirnya, si murid jadi kurang nilai jualnya saat ingin mendaftar sekolah paskasarjana terutama level doktoral. Sekali lagi, saya tidak bilang semua dosen ITB begini. Cuman saya pribadi sangat kecewa karena ITB tidaklah seindah apa yang saya bayangkan ketika saya diterima dan mendengar gaungan “The Best University in Indonesia”. KZL REK… Capek, ketika di luar sana ditanya,”Hakiki, where are you from? I meant what university were you graduated from?” Saya menjawab,”ITB”. Teman saya (tidak satu dua kali bertanya),”Where is it?”.

Stanford University, dengan pamor Dr. Mark Zoback bisa menjadi the leading research university in the world for geomechanics. UT Austin tepatnya Bureau of Economic Geology menancapkan doktrinnya yang kuat untuk Carbonate Reservoir Characterization dengan dipimpin oleh Dr. F Jerry Lucia. Zoback dan Lucia inilah orang-orang yang mengubah dunia.

ITB?

ITB masih menjadi “The Best University” for teaching NOT RESEARCH. Not yet🙂

ITB saja begini, bagaimana yang #ahsudahlah

Thanks God! KAUST sangat jauh dari apa yang saya bayangkan. Jauh lebih baik. Setiap hari saya berinteraksi dengan orang-orang yang sudah langganan dan bahkan merupakan Editorial Board dari jurnal sekelas Geophysical Research Letter, Natureterbitan Royal Society of Chemistry, Science, PNAS USA yang wuaaaaaaaaaah sekali. Banyak juga dosen KAUST yang dapat penghargaan Highly Cited Researchers versi Thomson Reuters.

Bottom line: Sorry for always complaining but I cannot give significant effort to boost ITB profile. At least, I am still monitoring ITB and its publication. I still even have a good relation with professor and student fellows at ITB to write paper. Yep, there are couple of papers being written.

 

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s