Renungan PhD – 1

Sering sekali babeh saya, Prof Juan Carlos Santamarina bercerita perjuangannya selama menempuh program doktoral di Purdue University. Salah satunya ini,”Hakiki, orang yang menikah itu secara psikologis lebih stabil daripada yang masih sendiri. Oleh karenanya, it is much better to marry karena PhD bukan sekedar pandai dan rajin tapi juga ketahanan. Saya dan istri saya, Cecilia, sudah punya anak satu saat saya PhD di Purdue. Saat itu, kami sangat miskin. Uang yang saya peroleh sebagai Research Assistant sangatlah kecil sedang biaya sewa rumah di Purdue sangat mahal. Selama 5 tahun saya menempuh PhD di Purdue, kami hanya sekali makan di McD, itu pun bukan BigMac tapi menu yang kecil, cheese burger saja. Bahkan, itu saya membeli satu saja dan dimakan bertiga: saya, istri dan anak saya. Bisa bayangkan betapa miskinnya saya? Di KAUST, para MS dan PhD student digaji dengan stipend yang sangat besar. Apalagi para dependent bisa bekerja dengan penghasilan yang lumayan juga. Fasilitas segalanya luar biasa. Jadi, segeralah menikah dan fokus untuk mempersiapkan masa depanmu berupa karya ilmiah (paper) dan jangan lupa, istri juga”.

“Kondisi serba kekurangan pun masih berlanjut, ketika saya mendapat posisi Assistant Professor di New York University (NYU). Biaya hidup di NY sangatlah mahal. Dibanding dengan gaji pertama saya waktu itu, masih di bawah standar Kota NY”, lanjut babeh saya.

“Maka, nikmat-Ku yang mana lagi yang akan kau dustakan”, Al Quran.

 

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s