Pamer Burung, Pamer Kedewasaan

What u think

Tiada hujan, tiada topan, tiada badai, tiada kegiatan pula hari ini, Rabu, 25 Desember 2013. Gw bukan pawang badai ya… tapi pawang hatimu yang sedang meradang rindu (Hubungi no. gw di +62 852 XXX YY ZZZ, cowok oke, cewek apalagi, haha). Sejak kemarin, suasana lingkungan kosan entah rame banget. Setelah ditelisik, 50 meter arah jam 10 dengan asumsi kosan gw menghadap arah jam 12, ternyata, ada keluarga yang punya hajat. Yups, sesuai judul tulisan kali ini, si tetangga gw ini punya hajat untuk mengkhitankan putranya. Dimulailah acara di hari Selasa dengan membahagiakan si bocah (calon yang disunat). Si bocah naik kuda hias yang diramaikan sedemikian rupa dengan berbagai pernak-pernik khas kuda yang disukai kuda pula. Gmana memastikan si kuda suka?

Ilustrasi Kuda Renggongnya persis macam ini (Source: aqiqahcatering.com)
Ilustrasi Kuda Renggongnya persis macam ini (Source: aqiqahcatering.com)

Menurut hipotesis gw, kalau si kuda kaga suka dengan pernak-perniknya, pasti si kuda udah kalap. Kenyataannya, si kuda santai-santai aja tuh sembari bergoyang maju mundur mengikuti alunan music tradisional khas Sunda. Nah, acara tersebut dikenal dengan nama Kuda Renggong. Hiasan kuda ini memang seperti penari ronggeng lho (Disambung-sambungin aja lah renggong dan ronggeng, Hahahaha). Gw tahu namanya dari Bibi kosan yang waktu itu bersih-bersih di lantai 3 kosan gw. Ada satu hal yang sampai-sampai memaksa gw harus keluar kamar padahal gw sedang berkutat dengan paper yang harus diberikan critical review-nya. Sebelum acara kuda renggong dimulai, ada pemain music yang berkata seperti memberi doa gitu kepada si bocah. Entah doa atau apa deh, gw lupa. Hebohnya itu, bapaknya berkata-kata dengan semangat kemerdekaan 1945 dan 1950. Woooow, gw serasa ada bapak-bapak seperti berorasi ala himpunan ITB deh. Diakhiri dengan kata “Merdeka”, “Merdeka”. Apaan sih, please deh Pak, gak usah berlebihan.

Besoknya, yaitu hari ini, Rabu, sedari isuk ubut-ubut, khas ala daerah kalau punya hajat, music dangdut pun dilantunkan dengan setengah mati kerasnya sampai gw nulis ini (siang, jam 1.52 PM). Please again, lo kaga punya tetangga ya. Atau barangkali tetangga lo juga sealiran deh. Dangdut yang dilantunkan pun yang sedang nge-hits nya di TV macam: Goyang Sitik Jos, Oplosan, dll gw kaga tahu deh apa namanya. Semacam acara YKS di TRANSTV pindah ke sebelah rumah.

Oke, itu tadi detail perkara yang terjadi. Apa sih esensi merayakan acara khitanan a.k.a sunat? Dalam kacamata gw, NOL. Dalam agama Islam dan Yahudi, diwajibkan untuk mengkhitankan “adik”nya. That’s all. Kabanyakan orang Indonesia, ingat kebanyakan ya (nggak semua), merayakan besar-besaran acara khitanan selayaknya acara pernikahan ada resepsinya. Di Rabu pagi, ada acara pengajian sesaat setelah (sekitar 1-3 jam) si bocah disunat. Isinya, jamaah mendoakan agar si bocah jadi anak soleh dll. Lantas, dangdut pun berguncang. Analogi dengan pernikahan, pengajian adalah acara ijab-qobul dan dangdut adalah resepsi. Di acara pernikahan orang bakal mengucapkan ke mempelai, ”Selamat ya!” atau “Selamat menempuh hidup baru!” atau “Segera ya punya momongan!”. Lah, ini sunat bro, SUNAT, ya kali si pengunjung acara “resepsi” khitan bakal ngomong, “Selamat punya BENTUK baru ya Dik” atau “Cepat GEDE ya Dik”. Nah lho, kalau lo sendiri bakal ngucapin apa?

Pernikahan, emang sangat disarankan  dan dianjurkan sekali  untuk mengumumkan pernikahan ke khalayak umum agar terhindar dari fitnah. (mungkin wajib ya? Gw miskin ilmu agama tolong dipandu). Nah kalau SUNAT??? Pamer apa? Pamer bentuk baru? Apa esensinya? Menurut gw, hanya buang-buang duit saja. Sejak kecil, si bocah dididik secara tidak langsung untuk melakukan sesuatu tanpa dasar dan pemikiran yang matang dan jelas. Kalau emang niatnya berbagi rezeki sih gak papa. Apalagi, acaranya mengundang anak yatim dari panti asuhan gitu. Wah keren. Nah ini, yang kebanyakan berlaku di Indonesia, ajang resepsi khitanan hanya dijadikan sarana bagi si orang tua untuk mencari “amplop-an” alias duit sebanyak-banyaknya. Kalau bisa sih surplus. Artinya, bisa untung daripada pengeluaran untuk seluruh serangkain acara khitanan. Itulah nyatanya yang terjadi di Indonesia. Miris ya… . Kalau dari pembaca ada yang merasa demikian, ya maaf ya. You should think it clearly. Kalau menurut gw sih, acara sembuh dari kondisi koma lebih patut disyukuri daripada sembuh dari sakitnya sunat.

Gw sangat bersyukur bahwa Allah SWT memberi gw orang tua yang mampu berpikir sejauh itu dan memberikan pandangan why something should be done or not. Semua itu merujuk Al Quran dan As Sunnah. Pernah nggak, Nabi SAW melakukan acara demikian? Kalau tidak, ya sudah, nggak perlu. As simple as that. Begitu pula dengan beragama, lo beragama jangan hanya karena ortu lo doang. Ortu lo Islam terus demi dianggap anak, lo masuk Islam. No, you should think again, why it is important to embrace Islam as your belief. Not only Islam, you should think why do you believe in Christian, Catholicism, Buddhism, Hind and so on.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s