Benci dan Cinta = Tak Masuk Logika

Benci – Cinta

Pikiran ini sebenarnya sudah sejak lama ingin saya ungkapkan, namun
karena suatu dan lain hal, keinginan hanya sebatas keinginan.
Sampailah ketika saya punya teman yang bisa menebak pikiran saya ini
yaitu teman yang paling rajin di angkatan 2010 Teknik Perminyakan ITB,
sebut saja Muizzuddin Shidqi. Nah, jadi begini ceritanya; Pada suatu
senja, sontak terbukalah pikiran saya gegara membaca twit dari
@sudjiwotedjo, “Cinta yang sejati itu cinta yang tidak karena apa-
apanya. Kalau masih bisa memberikan alasan semisal ini itu dsb.
berarti cinta palsu.” Saya seketika merasa aneh, kan kalau di Islam,
nikahilah wanita itu karena 4 hal: Iman, Harta, Nasab (keturunan) dan
Kedudukan. Selanjutnya, sesiapa yang memilih karena iman, niscaya
dialah yang beruntung. Nah ini, kok malah Cak Tedjo bilang justru yang
sejati itu karena tidak bisa memberikan alasan. Intinya ya cinta,
nggak tahu knapa. Versi Jawa-nya, “Pokoke Seneng, mboh knopo”.
Berpikir demi berpikir, ini ada benarnya. Ketika saya masih kecil,
saya tidak pernah berpikir kalau ibu saya sudah berkorban banyak untuk
saya, ntah mengapa saya begitu mencintai ibu saya dan kemana-mana
selalu ingin dengan ibu. Itu lah cinta, kau cinta tak bisa memberikan
alasannya mengapa. Setelah bertahun-tahun kemudian, ketemulah saya
dengan si Shidqi ini. Saya cerita bahwa saya cukup membenci teman saya
si X di angkatan saya. Ntah, “Mengapa Ki, kok bisa begitu?” Shidqi
bertanya kepadaku. Saya pun menjawab, “Ini seperti cinta Qi, yang
nggak bisa kuberikan alasannya. Pokoknya benci ya benci. Aku nggak
begitu nyaman dengan orang satu ini.” Shidqi pun bersabda,”Itu
kemungkinan besar karena pikiran dari alam bawah sadarmu yang berkata
demikian. Mungkin kau punya memori mengenai orang yang mempunya sifat
yang sangat kau benci dan kau menemukan bebrapa sifat itu di si X
ini.” Wow, I was wondered and still being amazed with your
statement, Qi. Ternyata itu benar sekali Shidqi. Menurut teoriku,
ketika kita sudah bisa membawa dan mematenkan sifat semacam A, B dan C
itu menjadi sifat yang sangat kita sukai atau benci, itu akan otomatis
menjadi patokan kita memilih teman termasuk teman hidup (baca:
istri/suami). Di sini, proses untuk bisa membawa sifat tertentu sebut
saja A adalah suatu proses yang benar-benar memakan waktu dan
tergantung bagaimana kita hidup dan bagaimana kita dibentuk oleh
lingkungan kita. Contohnya, semisal kita selalu hidup di lingkungan
orang-orang beriman dan sholeh, pasti perilaku hidup taat kepada-Nya
menjadi sifat yang terpatri di alam bawah sadar kita. Otomatis, jika
kita dihadapkan dengan pilihan beberapa calon istri, akan kita pilih
yang paling sholehah. Mungkin, di antara bebebrapa lelaki tidak bisa
menjawab mengapa memilih si wanita Y. Ya karena cinta saja. Padahal
sebenarnya pikiran bawah sadarnya lah yang memandu untuk menjadikan
“sholehah” sebagai screening criteria berdasarkan automated fuzzy
logic otak ini. Ya sangatlah baik menurut saya, kalau yang namanya
“sholehah” itu sudah menjadi bagian dari pikiran bawah sadar. Artinya,
kebaikan sudah terbenamkan dengan baik di dalam diri ini. Bukanlah
ke-sholehah-an yang kita paksa dalam pikiran ini untuk memilih mereka
(calon isteri). Bukan pula, sesuatu yang kita paksa untuk kita cari-
cari dari pribadi mereka. Jadi, pernyataan Cak Tedjo tersebut sudah benar adanya namun kurang sreg, yang lebih tepat adalah:

Ada suatu alasan cinta namun alasan tersebut sudah terselaraskan dengan baik melalui pikiran bawah sadar. Sehingga, kata-kata kita tak mampu lagi melukiskan rasa ini.”

 

Tahukah kau, bahwa mengucapkan syahadat di kala malaikat maut
memanggil tidaklah semudah sekedar yang kita lakukan di kala sehat.
Perlu akumulasi kebaikan, sehingga kelak Allah SWT kan ridho atas
kita menjadi penghuni surga-Nya. Akumulasi kebaikan yang terus-menerus
dilakukan akan mengendap di pikiran bawah sadar ini. InsyaAllah,
inilah yang menjadi kemudahan kita bisa mengucapkan syahadat di
penghujung hidup ini. Inti dari cerita saya ini adalah bagaimana
perilaku yang paling dominan ini akan memegang kendali hidup kita
melalui pikiran bawah sadar. Ada komentar?

[Ditulis dalam kondisi pusing karena berhadapan dengan berbagai data
laboratorium mengenai kemampuan bakteri Bacillus sp. dan Bacillus
polymyxa untuk menghasilkan biosurfaktan, prospek sebagai agen
Microbial Enhanced Oil Recovery, Jumat 18 Oktober 2013, pkl. 19.00-
21.30 WIB. Goodbye Syukwis!!!]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s