Another View of Ramadhan #1

Bulan Ramadhan sesungguhnya adalah bulan ujian kesabaran untuk mereka, khususnya orang-orang kafir, yang tidak puasa.

Para kafir sebagai minoritas diuji kesabarannya selama Ramadhan; tidak bisa makan seenaknya di muka umum, sulit mencari warung/tempat makan pada siang hari karena banyak yang tutup, harus siap sabar mendengar gedombrangan tiap menjelang subuh, harus sabar juga dengar suara ngaji yang keras dan memekakkan telinga dari TOA masjid, dan seterusnya.

Sementara muslim yang berpuasa, apa ujiannya? Hampir tidak ada. Siang hari tidak ada warung yang buka terang-terangan. Yang tidak puasa, jarang sekali terlihat makan di tempat umum. Tempat hiburan malam tutup, atau mengurangi jam buka. Acara TV kebanyakan bernuansa agamis (Islam). Kalau begitu kondisinya, apa hikmah ujian mental dan kesabarannya? Ya tidak ada.

Itulah sebabnya, saya berani bilang bahwa di Indonesia (baca: negeri mayoritas muslim), bulan Ramadhan adalah justru bulan gemblengan mental dan ujian kesabaran untuk para kafir. Bukan sebaliknya.

Di awal Ramadhan ini, saya justru mengucapkan “SELAMAT BERPUASA” kepada rekan-rekan kafir. “Puasa” di sini dalam arti mampu menahan diri dengan sikap sabar sesabar-sabarnya menghadapi euforia Ramadhan yang seringkali “lebay” dan tak jarang diselingi sikap “arogansi rohani” dan egoisme dari mayoritas.

by Friend of Reggy Hasibuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s