Kualitas Dosen di Indonesia

Source: http://cl.jroo.me
Source: http://cl.jroo.me

Alhamdulillah, Allah SWT memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenyam pendidikan di universitas yang kata orang paling bagus se-Indonesia a.k.a. ITB. Yups, dari segi dosen saja hampir tidak ada dosen yang tidak Ph.D bahkan mayoritas lulusan dari luar negeri semua. Kuliah tingkat satu saja, sudah diajar seorang professor untuk mata kuliah KPIP dan SAS. Masuk di tingkat dua tepatnya di program studi Teknik Perminyakan (TM), lebih dari 96% dosen TM dengan predikat M.S dan Ph.D dari luar negeri seperti Texas A&M University, University of Tulsa, University of Pennsylvania, dari Perancis, Jerman, dan lain sebagainya. Suatu hal lumrah di sini, mahasiswa sarjana diajar seorang professor, tidak hanya di prodi Teknik Perminyakan saja tetapi di prodi yang lain juga. Tak sedikit, saya temui juga beberapa teman-teman S1 pun sudah diajak ikut penelitian oleh dosennya untuk sebuah proyek penelitian selevel Ph.D. Bagi kami yang kuliah di ITB adalah suatu kesempatan emas untuk bisa mengembangkan kemampuan sampai to the top. Tetapi, sayang sekali kalau kesempatan serupa tidak bisa dinikmati oleh semua mahasiswa di Indonesia. Memang pendidikan di Indonesia ini masih berpusat di pulau Jawa saja. Yaah, di beberapa universitas lain pun masih banyak ditemui “aturan” seperti berikut: kalau mengajar mahasiswa S1 cukup S2 saja, nah yang mengajar mahasiswa S2 itu minimal S2 juga atau S3 lah. Nah yang mengajar mahasiswa S3 itu at least S3 atau umumnya professor. Sepertinya aturan seperti ini harus benar-benar direvitalisasi. Coba cek, kalau di US atau eropa itu seorang lulusan S3 sekalipun belum tentu atau bahkan tidak boleh mengajar sebagai Assistant Professor sebelum melewati kualifikasi minimum yang disebut postdoctoral, suatu level di mana seseorang berkerja dengan tujuan untuk menghasilkan dan mempublikasikan karya penelitian sebanyak mungkin. Level ini biasanya berlangsung selama 2 tahun.

Kalau Indonesia dibuat seperti ini, tak perlu lagi lulusan-lulusan SMA berebut untuk kuliah ke tanah jawa lagi. Eits, di pulau jawa sendiri pun juga masih banyak universitas yang memberikan beban mengajar ke seorang dosen yang belum mendapatkan Ph.D. Nah, repot kan… Sebaiknya, pemerintah harus memberikan insentif lebih (bukan sekedar cuman ratusan ribu) tetapi harus berjuta-juta agar setiap pengajar terdorong untuk mengasah ilmunya. Ya… diasah melalui jenjang formal bernama program doktor. Anyway, jadi teringat pertanyaan kaisar Jepang pada waktu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom yaitu,”Seberapa banyak pengajar (sensei) yang masih hidup.” Nah lho, kaisarnya sangat menyadari bahwa peran guru adalah benar-benar tiang utama (soko guru) untuk kemajuan bangsanya. Apakah Pak Beye juga demikian ya? Yups, beliau juga memikirkan lho teman-teman yaitu mumpung nggak ada yang jadi ketum Partai Demokrat, gw aja lah yang ngerangkap sebagai ketum-nya. #bukanforumgosip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s