Indonesia Negara Gagal (?)

Coba deh cek link wikipedia berikut ini. Aneh dan lucu juga, kok ada daftar yang beginian. Darimana dan macam apa pula indikator yang digunakan, saya pun tak tahu menahu. Well. Coba deh sedikit diselediki.

Failed States Index
Source: lazuardibirru.org

Berikut sajian ulang dengan beberapa gubahan isi sebuah majalah bernama “Soul of Campus” yang terbit di lingkungan Institut Teknologi Bandung, dengan judul artikel “Kaum Cendekia sebagai Pusat Kekuasaan Ketiga”:

Pernah ada kasus pengungsi dari Iran yang kabur lewat Indonesia untuk menuju Australia. Kasus ini, ada tiga negara yang “bego”. Pertama, Iran; negara macam apa Iran itu, sehingga ada yang ingin kabur ke Aussie. Kedua, Indonesia; negara macam apa Indonesia ini, sehingga imigran yang sudah kabur pun tidak mau tinggal di sini, malah menyewa perahu untuk bisa kabur? Ketiga, Australia; kenapa mereka mengunci perbatasan mereka sehingga orang luar tidak bisa masuk.

Source: satunegeri.com
Source: satunegeri.com

Menurut dosen STEI ITB, Armein Z. R. Langi, Ph.D, negara-negara ini (saya tak tahu mana yang dimaksud kata “ini” itu) adalah negara yang gagal membangun kekuatan ketiga (Kaum Cendekia), sehingga masyarakat tidak merasa menjadi bagian dari negara itu. Negara yang sukses adalah negara yang rakyatnya tidak mau “kabur” dari negara itu, karena dia merasa: “Saya punya bagian di negara ini. Saya mewarisi negara ini.”

Dalam muatan di atas, kaum cendekia adalah masyarakat dengan model distribusi silindris yang mana setiap orang bisa unggul dalam bidang yang ia pilih, contohnya mahasiswa dan dosen. Menurut beliau, peran kaum cendekia harus dimulai dari sekarang dan menjadi model dari masyarakat. Bentuk nyatanya adlah membangun kemandirian kampus. Pikiran ini: bagaimana cara supaya dosen-doesn dan mahasiswa ITB bisa membuat ITB tidak bergantung ke penguasa dan pengusaha (beda sedikit ya penulisannya).

Beliau percaya tiap mahasiswa ITB sudah dibekali dengan talenta berupa pengetahuan mentah. Uniknya pemegang kekuasaan ketiga adalah: mereka tidak menonjol. Dalam bahasa beliau, mereka dalah garam dan terang dunia; orang-orang cuma tahu rasa asin tetapi tidak tahu dari mana asalnya. Pemegang kekuasaan ketiga ini berkontribusi tanpa pencitraan. Jadi, lakukanlah tugas sebagai penguasa sebaik-baiknya tanpa pamrih.

The question is finally: ” Should I retain my Indonesian citizen since I would like to be a researcher and live in USA?”

Let God does the best and the time decide it. Yeah, I wrote the time, not time. You might have already known it. I won’t let it naturally flow but it has been schemed when it will be.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s