Paper Resume on Petroleum Geology Class

Jurnal/Nomor

:

SPE 90051

Judul

:

Optimizing Horizontal Completion Techniques in the Barnett Shale Using Microseismic Fracture Mapping

Penulis

:

M.K. Fisher, SPE, Pinnacle Technologies, J.R. Heinze, C.D. Harris, SPE, Devon Energy Corporation, B.M Davidson, C.A. Wright, and K.P. Dunn, SPE, Pinnacle Technologies

Link

:

http://discoverygeo.com/Papers/SPE%2090051.pdf

 

Resume:

1. Problem Definition and Principal of Experiment.

Problem: Barnet Shale di Texas Utara merupakan reservoir dengan jenis permeabilitas ultra-low, yang artinya fluida hidrokarbon susah untuk diproduksi. Sehingga, di beberapa area, telah dilakukan pemboran horizontal, komplesi horizontal, single dan multiple perforasi  untuk mengoptimisasi produksi gas. Alhasil, diperlukanlah pengetahuan terhadap rekahan buatan dan dampak dari tindakan-tindakan teknis yang telah dilakukan dan membandingkannnya terhadap hal-hal serupa jika pada sumur vertical. Muncul pula keingintahuan apakah komplesi horizontal yang telah dilakukan sudah efektif atau tidak.

Principal:

  1. Usaha untuk mengetahui hasil-hasil atas tindakan teknis yang telah dilakukan dapat diketahui dengan menggunakan Microseismic dan Fracture Mapping.
  2. Hasil pengamatan berupa strategi pemboran dan komplesi horizontal akan dibandingkan dan diskusikan terhadap hasil jika dilakukan pada sumur vertical sebagaimana standar prosedur yang umum digunakan untuk pengeboran dan komplesi vertikal.

 

2. Assumption and Limitation.

  1. Sumur yang dilakukan observasi adalah 23 sumur-horisontal pertama di Forth Worth Basin dengan durasi produksi (rate production) selama 6 bulan.
  2. Ada 11 sumur saja yang dipetakan dengan microseismic dan dipisahkan dari populasi sampel untuk selanjutnya dibahas secara khusus.

 

3. Practical Application.

Dari gambar-13 sampai 22, menjelaskan rangkuman mengenai desain tindakan rekahan (fracture) disertai hasilnya untuk sumur-sumur yang diteliti. Geometri dan luasan kontak reservoir untuk kasus lapisan (stages) rekahan disemen v.s. tanpa disemen dibandingkan pula secara langsung dalam grafik-grafik tersebut. Dapat dipelajari bahwa:

  1. Lokasi klaster perforasi mempunyai dampak yang kecil terhadap lokasi rekahan yang terjadi.
  2. 1 atau 2 klaster perforasi lebih menguntungkan daripada 3 klaster.
  3. Rekahan buatan (hydraulic fracturing) secara jelas berinteraksi dengan rekahan alamiah.
  4. Pada sumur mendatar, nilai yang besar dari volum rekahan tidak berdampak penting dalam meningkatkan panjang jaringan dan produktivitas sumur.
  5. Produksi sumur horizontal sekitar 2-3 kali lebih besar dari sumur vertical untuk 180 hari pertama.
  6. Komplesi dengan penyemenan lebih kompleks dan bermasalah daripada tanpa penyemenan.
  7. Secara statistic dari populasi sampel, diperoleh informasi bahwa komplesi tanpa penyemenan memberikan manfaat dalam hal produksi.

 

4. Discussion.

4.1 Author’s point of view

Jika rekahan buatan mencapai formasi yang berada di Lower Barnet Shale, Jalur konduktivitas akan semakin terbuka ke daerah berpori, daerah interval produksi air, yang mengakibatkan kerusakan permeabilitas relative dan berlanjut ke produksi.

4.2 My point of view

Suatu hal yang bagus dari paper ini adalah memberikan keterangan secara mendetail pada setiap komponen dari penelitian yaitu: Barnet Basics, Pengujian Rekahan, Pemboran Horizontal, Sumur Horizontal dengan Semen, Sumur Horizontal Tidak dengan Semen, Stress Shadow, Mapping secara real-time, dan Pembahasan akhir. Penyajian grafik yang kontras pada kondisi dengan semen dan tidak serta kondisi sumur vertical memudahkan pembaca mengetahui informasi secara komprehensif. Pembaca disajikan informasi mendalam tentang Barnet Shale itu sendiri terutama dalam hal ini karakter dan type log-nya.        

 

5. Recommendation

Diperlukan studi lanjut mengenai hydraulic fracturing pada sumur horizontal untuk hal-hal berikut:

  1. Jaringan garis pemboran disemen atau tanpa semen. Mana yang optimal?
  2. Single stage v.s. multi stages fracturing. Apakah multi-stages mengubah dan memberikan efektivitas pada sumur horizontal yang tidak disemen komplesinya?
  3. Bagaimana orientasi arah pemboran terhadap orientasi arah rekahan yang diinginkan?
  4. Seberapa panjang pengeboran horizontal seharusnya diperpanjang?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s