Merawat Ingatan dan Hikmah Sejarah, Merawat Indonesia: “Penebusan Dosa Sang Mantan Pangkostrad ?”

Jas Merah – Jangan sekali kali melupakan sejarah. Itulah pesan Bung Karno yang diamanatkan kepada generasi penerus. Begitu pula dengan sejarah kelam yang dicatat bangsa ini yaitu Tragedi Mei 1998. Peristiwa ini diawali dengan tewasnya empat orang mahasiswa Universitas Trisakti pada saat melakukan demonstrasi untuk menuntut bergulirnya reformasi dari tangan Presiden Soeharto. Kejadian ini jelas menorehkan luka tidak hanya bagi keluarga para korban, aktivis HAM, masyarakat Tionghoa, namun juga masyarakat secara umum hingga saat ini. Ingatan sejarah itu pun tak kunjung memberikan kesembuhan batin lantaran tak ada kejelasan proses hukum yang dilakukan guna menindak para aktor dibalik itu semua. Bahkan, siapa aktor dan sutradara yang ‘sebenarnya’ pun sampai saat ini belum diungkapkan secara resmi oleh pihak berwenang. Presiden SBY pun seolah membungkam diri atas kasus ini. Banyak sekali waktu yang bisa diupayakan oleh Presiden SBY jika memang benar-benar mau mengusut tragedi ini mengingat sudah dua kali menjabat. Menurut Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin dalam hariansumutpos.com (14/05/2012), “Peristiwa itu tidak cukup sekadar diperingati setiap tahun”. Pemerintah wajib menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. “Presiden harus langsung memimpin agar hal itu tak menjadi warisan masalah bangsa,” tandasnya. Untuk mempercepat penanganan, Lukman mengatakan bahwa presiden perlu membentuk satuan tugas (satgas) yang langsung di bawah koordinasinya.

Adalah Prabowo Subianto, salah seorang yang diduga mendalangi peristiwa itu berdasarkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (Jusuf, dkk. 2005). Dugaan motifnya adalah untuk mendiskreditkan rivalnya Pangab Wiranto, untuk menyerang etnis minoritas dan mendapat simpati serta wewenang lebih dari Presiden Soeharto bila kelak ia mampu memadamkan kerusuhan (Soempeno & Kunto, 2009). Kini, Prabowo muncul sebagai sosok yang pro-rakyat kecil dengan menggandeng HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia). Bahkan, nama Prabowo Subianto selalu unggul sebagai calon Presiden RI 2014-2019 dalam berbagai survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga seperti SSS (Soegeng Sarjadi Syndicate), LSN (Lembaga Survei Nasional), dan Saiful Mujani Research & Consulting. Prabowo digadang-gadang mampu membawa pemerintahan yang lebih baik dan berpihak kepada rakyat kecil. Popularitasnya pun meningkat seiiring dengan melambungnya nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam pentas cagub-cawagub DKI Jakarta 2012 yang diusung oleh partainya, Gerindra. Dengan demikian, muncul opini: Apakah ini sebagai bentuk penebusan dosa bagi Sang Mantan Pangkostrad? Bagi Prabowo sendiri, ini adalah sebuah kewajiban dan pengabdian kepada NKRI karena ia merasa tidak bersalah dalam Tragedi Mei 1998. Terlepas dari benar tidaknya rumor tersebut, setiap manusia pasti punya kesalahan dan bertaubat adalah pilihan. Cukuplah Tragedi Mei 1998 terjadi sekali saja. Segala hikmah harus dipetik guna merawat Indonesia dan mewujudkan toleransi berbangsa dan bernegara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s