Nasibku Malang, Nasibku Sial

Tugas Menulis Cerpen

Nama: Farizal Hakiki

No. Absen: 17

Kelas: X-6

Unsur Intrinsik:

  1. Tema: Kemalangan nasib.
  2. Latar Tempat: Di rumah, di halaman rumah, di jalan raya,    dan di ruang persidangan.
  3. Latar Waktu: Pagi hari dan malam hari
  4. Alur: Maju
  5. Sudut Pandang: Orang pertama pelaku utama.

Nasibku Malang, Nasibku Sial

 

Kriiing, kriiing, kriiing, suara jam beker yang menandakan pukul 07.00 WIB. Sial, lagi-lagi aku terlambat bangun. Kejadian ini merupakan kejadian yang aku sendiri lupa entah yang keseberapakalinya hal ini terjadi. Seperti biasa, aku pun segera beranjak ke  kamar mandi. Ciiit, hampir saja aku terpeleset dan terjatuh karena ada air yang tumpah kemarin malam. Untunglah hari Senin ini masih berpihak kepada diriku, tetapi sebentar lagi siapa yang tahu. Setelah mandi ala bebek, aku pun bergegas mengenakan seragam kantor. Tanpa berpikir untuk sarapan, merapikan kamar tidur, dan yang lainnya, aku segera mengeluarkan sepeda motorku dari dalam rumah. Tampaknya hari Senin ini hari Senin yang cerah dan lazuardi biru di langit menambah indahnya suasana hari Senin ini. Namun sayangnya, hari Senin ini tidak secerah dan seindah nasibku. Kekhawatiranku terhadap atasan yang bakalan menampakkan tanduknya selalu dan selalu membayangi diriku semenjak aku terbangun. Sudahlah daripada aku kepikiran terus lebih baik aku langsung tancap gas ke kantorku yang berada di Jalan Kapten P. Tendean No.14A Jakarta Selatan.

Dengan dipacu usaha untuk meminimalkan kadar kemoloran waktu datang ke kantor yang bercampur aduk dengan rasa takut jika aku mengalami kecelakaan di jalan raya mengingat sekarang aku mengendarai motorku dengan kencang sekali, aku hanya bisa menyesal mengapa aku sering sekali mengalami hal yang sama seperti ini. Tetapi aku tak sendiri dan seketika itu aku menyadari ya inilah negaraku Indonesia dengan hampir semua penduduknya berjam karet.

Tampak dari kejauhan ada kemacetan. Lantas aku pun segera memotong jalan sebelum aku masuk ke ruas jalan tersebut dan terjebek kemacetan. Sepertinya jalan di sini sedikit lebih sepi walaupun waktu yang dibutuhan akan lebih lama. Spontan, gas motorku kumaksimalkan. Tiba-tiba, “Priiit, priiit!” terdengar suara peluit dari seorang polisi yang berjaga di tepi jalan raya sambil menunjukkan jarinya ke arahku. “Sial!” kataku sambil berusaha menghentikan motor. Segera pak polisi tersebut menghampiriku.

“Selamat pagi!” sapa polisi tersebut.

“Sss…Selamat pagi!” jawabku dengan gugup.

“Maaf Pak, saya mengganggu perjalanan Bapak,” lanjut polisi tersebut.

“Iya Pak, Ada apa ya?” tanyaku dengan penuh keheranan mengapa polisi tersebut menghentikan perjalananku.

“Begini Pak, Bapak telah menerobos lampu merah saat lampu masih manyala,”jawabnya. “Oleh karena itu Bapak kena tilang dan ini surat tilangnya Pak tolong ditandatangani.”

Aku pun terkejut. Aku tak menyadari kalau aku telah menerobos lampu merah. “Dasar hari Senin!”gumamku. I don`t like Monday, itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku hari ini.

“Maaf Pak! Bagaimana kalau saya boleh melewati surat tilang ini?”tawarku kepada polisi tersebut. “Dan ini Pak uang sekedar buat rokok.”

“Maaf Pak! Saya tidak bisa menerima pemberian Bapak,”balas polisi itu.

“Ya…kalau bapak nggak ngerokok, ya…sekedar buat makan siang saja deh,”rayuku kepada polisi itu.

“Pak, saya ini seorang polisi yang tugasnya bukan menerima ceperan dari orang yang seperti Bapak ini. Jadi lebih baik uang Rp 20.000,- ini diamalkan saja Pak!”jawabnya dengan tegas.

“Bagaimana kalau Rp 50.000,-? Tolong Pak diterima ya!”lanjutku agar terbebas dari tilangan ini.

“Maaf Pak, berapapun Bapak mau membayar, Saya tetap tidak mau menerimanya.”

Apa boleh buat nasi telah menjadi bubur mau tidak mau aku harus mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan seminggu lagi. Bergegas aku melanjutkan perjalanan dan tancap gas lagi dengan lebih berhati-hati menuju ke kantorku walaupun toh omelan dari atasan jua yang akan kuperoleh. Ya inilah kehidupan di Jakarta mulai terjebak macet, kena tilang, sampai anehnya masih ada juga polisi yang tidak mau menerima ceperan di tahun 2008 ini.

Setibanya di kantor, ternyata benar apa yang kuestimasikan tadi pagi bahwa begitu datang aku telah disambut oleh atasanku dengan tanduknya yang berbahaya. Segala macam alasan pun kukerahkan. Tetapi ya tidak mempan juga. Masih untung aku tidak dipecat atau dipotong gajiku, beliau hanya tidak memberiku upah lembur. Tetapi sudahlah, biar bagaimanapun juga ini salahku dan mungkin juga salah budayaku mengapa ada ‘jam karet’ dan terlambat di Indonesia sehingga mempengaruhi nasibku menjadi malang nan sial.

Teng, teng, teng,suara lonceng jam kuno berdenting bersamaan ketika aku melepas sepatu sepulang kerja dua hari berlalu setelah kejadian ditilang polisi. Akupun sedikit lega sudah tidak lagi menerima omelan dari atasan. Dan aku pun sudah mempunyai iktikad untuk tidak terlambat lagi. Namun yang tetap susah bagiku adalah melawan budaya Indonesia seperti memberi ceperan agar terbebas dari tilangan. Ya sudahlah, segera aku mengganti pakaianku lantas menuju ke dapur hendak memasak. Setelah matang, akupun bergegas ke ruang makan. Tak sabar aku melahap ikan gurame bakar yang baunya sangat menusuk hidung dengan sambal yang  pedasnya bukan main.

Bersamaan ketika aku ingin memasukkan santapan yang pertama ke dalam mulutku, tiba-tiba terdengar suara bel rumahku, “Ting tong, ting tong.” Terpaksa aku menunda terlebih dahulu makan malamku. Kemudian kubukalah pintu rumahku dengan perlahan. Tampaklah dua orang polisi muda seumuranku dengan gagahnya berdiri didepan pintu rumahku. Seribu tanda tanya sontak penuh dikepalaku apa gerangan yang membawa dua polisi tersebut ke rumahku.

“Permisi, selamat malam!”sapa salah seorang polisi.

“Iya selamat malam!”jawabku terheran-heran apa maksud polisi tersebut datang ke rumahku. “Mmh…masuk dulu Pak.”

“Oh, nggak usah Pak, Apa benar ini rumah Bapak Fulan?”tanya polisi yang satunya lagi.

“Benar Pak, dengan saya sendiri. Ada perlu apa ya?”

“Begini Pak, kami hanya mau menyampaikan surat dakwaan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengenai kejadian dua hari yang lalu dan dimohon Bapak dua hari lagi mengikuti persidangannya di sana. Mungkin untuk lebih jelasnya mohon dibaca sendiri. Terima kasih, Pak. Selamat malam!”

“Sss…selamat mmm…malam!”

Padahal sidang tersebut seharusnya baru diadakan lima hari lagi. Mengapa dipercepat? Aneh, semenjak ini aku baru tahu ada persidang tilang yang dipercepat. Segera aku membuka surat yang dibawa oleh dua orang polisi tadi. Seketika itu juga aku kaget dan lemas seolah tubuhku tak bertulang  melihat tulisan di dalam surat tersebut “SAUDARA SEBAGAI TERDAKWA DIMOHON DATANG DI PERSIDANGAN HARI JUMAT, 11 APRIL 2008 PUKUL 08.00 WIB DENGAN DIJEMPUT OLEH POLRES JAKARTA SELATAN ATAS TUDUHAN PENYUAPAN TERHADAP PETUGAS APARATUR NEGARA.

Tibahlah hari-H persidangan tersebut. Kepala pusing, tubuh lemas, otak tertekan, mata berkunang-kunang, itulah sedikit gambaran keadaanku pada hari itu. Di depan Para Hakim yang  menempati meja hijau, aku hanya bisa mendengarkan dakwaan-dakwaan yang dilontarkannya namun tidak begitu jelas. Apalah yang bisa kulakukan sebagai seseorang dengan gaji sedikit yang tak mampu menyewa pengacara handal untuk membela diriku. Aku hanya bisa terdiam dan terpaku tak ubahnya seperti mayat yang membujur kaku. Dan inilah nasibku beserta budaya aparatur negaraku yang aneh, suatu saat bisa bersikap benar dan tegas tetapi suatu saat bisa memutarbalikkan fakta. Pasal demi pasal menjeratku mulai dari KUHP sampai Undang-Undang No.28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Sampai pada akhirnya hakim menjatuhkan vonisnya DENGAN HUKUMAN KURUNGAN SELAMA 5 TAHUN yang sangat terdengar jelas. Tok tok tok! seketika itu pingsanlah diriku.

-Diterjemahkan dari Majalah Panjebar Semangat Edisi <lupa>, Vol <lupa>-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s